Sarah Lacy adalah seorang jurnalis profesional dari
Silicon Valley, Amerika Serikat. Silicon Valley terletak di negara bagian
California, Amerika Serikat yang menjadi pusat perusahaan-perusahaan TI. Sarah
Lacy adalah editor at large dari blog TechCrunch, sebuah blog yang menjadi
rujukan bagi para entrepreneur maupun calon entrepreneur TI, selain itu Sarah
juga menulis di Business Week. Pekerjaan ini membuat Sarah berinteraksi dengan
banyak entrepreneur di Silicon Valley, mencari tahu dan menganalisa
rahasia-rahasia kesuksesan mereka, diantaranya yang sangat terkenal adalah
interview dengan Mark Zuckerberg (pendiri Facebook).
Kedatangan Sarah Lacy ke UC, khususnya Information
Technology, adalah untuk membagikan rahasia tersebut pada mahasiswa-mahasiswa
program studi Teknik Informatika dalam sebuah acara talkshow. Menurut wanita
cantik ini, terdapat 6 resep kesuksesan perusahaan-perusahaan Silicon Valley:
- Just Start It! Mulailah dengan hal yang kecil, sederhana, yang anda sukai. Tidak perlu banyak rencana, apalagi business plan, lakukan saja. Business Plan baru diperlukan ketika anda ingin melakukan komersialisasi produk.
- If people said you’re crazy, then you’re already in the right track. Ketika orang menertawai ide anda, janganlah berkecil hati. Hal itu berarti bahwa ide anda tidak lazim, tidak terpikirkan oleh orang pada umumnya. Dalam arti lain, ide anda sangat inovatif. Jangan lupa bahwa inovasi adalah kunci sukses seorang entrepreneur
- Be in Open Constructive System. Ciptakan lingkungan yang positif. Kelilingi diri anda dengan orang-orang yang memberikan dukungan dan semangat. Orang-orang tersebut tidak melulu adalah teman anda, tapi yang terpenting justru adalah competitor anda. Di Silicon Valley kompetitor anda adalah teman anda, teman anda adalah kompetitor anda. Mereka biasa saling berbagi ide, ilmu, dan pengalaman. Hal ini yang justru menjadi nafas perkembangan perusahaan-perusahaan di Silicon Valley. Tidak perlu takut ide anda akan ditiru kompetitor. Idea is just an idea, the execution is what matter.
- Don’t wish for Venture Capital in early stages. Umumnya hal pertama yang dikhawatirkan orang yang hendak membuka usaha adalah modal. Mereka berharap ada pemodal besar yang mau mendanai usaha mereka. Perusahaan-perusahaan Silicon Valley malah tak menginginkan itu, paling tidak di awal-awal usaha. Campur tangan para pemodal akan membuat bisnis anda tidak berkembang, karena saham anda akan dibeli lalu anda akan diatur oleh mereka.
- Search for Local Value. Indonesia bukan US, jadi yang berhasil di US belum tentu berhasil di Indonesia. Tidak perlu melihat target market yang terlalu besar. Pikirkan tentang kebutuhan diri sendiri, lingkungan/masyarakat sekitar. See the hole, and fill it in.
- Constant Hard Work. Di Silicon Valley juga banyak perusahaan yang gagal. Perbedaan antara yang gagal dan yang berhasil adalah kerja keras. Terus menerus. Smart work hanyalah alasan bagi para pemalas.
Selain berbagi 6 resep di atas, Sarah Lacy juga melayani
tanya jawab dengan para mahasiswa yang sangat antusias. Beberapa pertanyaan
yang cukup menarik terangkum di bawah ini.
Apakah
keahlian membuat software berhubungan dengan keberhasilan entrepreneurship?
Kevin Rose yang mendirikan digg.com tidak bisa membuat
software namun berhasil menjadi entrepreneur dengan penghasilan jutaan dollar,
berbeda dengan Mark Zuckerberg yang mahir membuat software dan mendirikan
Facebook saat ini kekayaannya mencapai milyaran dollar. Dengan pola pikir
entrepreneurial kita mampu membuat sebuah peluang usaha, dengan keahlian kita
mampu menjadikannya sebuah produk yang luar biasa.
Apakah konsep entrepreneurship di Amerika sama dengan di
Indonesia?
Sebelum tahun 1995, konsep entrepreneurship di USA sama
dengan di banyak Negara berkembang, yaitu membuka pop & mom shop atau
bisnis yang sekedar berdagang tanpa ada produk inovatif, namun setelah itu
dengan adanya teknologi internet, konsep entrepreneurship berubah menjadi
kearah inovasi yang banyak melibatkan kemajuan teknologi informasi.
Apa perbedaan antara Tech Entrepreneur di era lama dan di
era Web 2.0?
Tech Entrepreneur lama yang sudah dikenal banyak orang
adalah Bill Gates (Microsoft) dan Larry Ellison (Oracle) mereka sangat mahir
dalam ilmu computer mereka dan mampu membuat sebuah produk dari scratch. Namun
Tech Entrepreneur yang baru biasanya membuat produk diatas penemuan sebelumnya,
sehingga kerja mereka jadi jauh lebih cepat dan tidak mengharuskan untuk
menguasai kemampuan teknis yang sangat tinggi.
Hal apa yang menarik untuk dipelajari dari Mark Zuckerber
(Facebook founder)?
Mark adalah seorang yang pemalu, namun bersama Sarah dia
merasa nyaman untuk bercerita dan berbagi ilmu. Dia seorang yang benar-benar
tahu apa kekuatan dan kelemahannya, lalu dia membuat dirinya dikelilingi oleh
orang yang mahir dibidang yang tidak dikuasainya (kelemahannya).
Apa yang
menjadikan Silicon Valley sebuah tempat yang begitu dinamis bagi
perusahaan-perusahaan IT?
Kultur kerja di Silicon Valley yang membiasakan orang
menerima kegagalan lalu bangkit lagi merupakan kekuatan terbesar. Lalu semangat
kerja dimana semua orang (termasuk kompetitor bisnis) dapat berbagi informasi
yang positif mampu menciptakan budaya tumbuh bersama. Yang terakhir adalah
persistensi (kegigihan) dalam mencapai apa yang mereka inginkan merupakan
sesuatu yang membuat mereka bertahan.
Sumber
Referensi :


Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus